Postingan

Simfoni Senja

Di tepian bumantara yang lara, Bagaskara berbisik pada anila senandika Menyulam jingga di kanvas cakrawala Membawa Hasrat yang hirap oleh waktu   Ranting-ranting renta mengecup atma Berharap harsa akan muncul Derai hujan begitu deras Mengiringi nyanyian nabastala   Nayanika yang begitu indah Renjana ini ku sampaikan Kepada swastamita di ujung senja Berharap akan menjadi dikara Pada ufuk biru berbalut jingga Bayangmu menari dalam aksara Setiap kata menjadi litani Menjejak ruang, menyentuh inti  

Seabatas Lengkara

  Desiran ombak menyapa Sejuknya angin membelai Aku menginginkanmu amerta Akankah kita bersama?         Angkasa turut bersedih        Ketika kisah ini berakhir       Tara akan selalu bersinar       Namun apakah kita akan sama? Kita hanyalah sebuah enigma Yang selalu menginginkan amerta Renjana ini akan ku sampaikan Melalui aksara sastra nan indah     Ini hanyalah sebuah metafora    Menceritakan tentang lengkara   Senandhika kan terus berbicara   Membicarakanmu lewat prosa

TUMBUH

Aku lahir dari detak yang bukan milikku, didorong waktu untuk berdiri sebelum sempat belajar berdiri. Hari-hari datang seperti ombak, membasuh mimpi yang masih rapuh, meninggalkan garam di pipi tanpa pernah bertanya apakah aku siap. Langit selalu tinggi, tanah selalu menuntut jejak, dan aku berjalan menyusuri jalan yang sudah di tandai jauh sebelum telapak kakiku terbentuk. Di malam-malam panjang, aku sering bertanya pada bintang apakah semua tumbuh berarti bahagia? atau hanya sekedar menjadi dewasa dengan hati yang diam-diam lelah.

SULUK BINTANG LAUT

Ia adalah bintang pertama yang menyalakan malam keluarga, cahayanya kecil, namun cukup untuk menuntun arah. Ia serupa bulan di tepi laut, tenang namun penuh rahasia, memantulkan cahaya yang tak pernah padam meski gelap mencoba menelan. Dalam dirinya mengalir air laut sunyi, menyimpan badai yang tak selalu tampak, namun dari pasangnya, lahirlah nyanyian yang menentramkan. Ia bukan sekedar penanda awal, melainkan cakrawala tempat doa terbit dan kasih berlabuh Untukmu wahai suluk sulung

AGUSTUS DI JALAN RAYA

Agustus, bendera kembali berkibar tapi di jalan raya, yang berkibar adalah poster-poster tuntutan suara rakyat yang pecah jadi gelombang Merdeka katanya, tapi harga hidup makin mencekik, pekerjaan menjerit, mahasiswa menggenggam megafon, teriakannya memantul dinding gedung-gedung kekuasaan Aspal jadi saksi, langkah kaki berderap seperti genderang perang. tangan terangkat bukan sekedar hormat bendera, tapi menuntut hak yang di janjikan dulu. Agustus bulan perayaan di atas panggung, bulan perlawanan di tengah kerumunan, sebab merdeka bukan hanya 17 Agustus, tapi juga keberanian untuk berkata: ''Kami belum benar-benar bebas, selama keadilan belum jadi milik semua masyarakat'' Di tulis pada saat terdapat sehubungan dengan peristiwa demo pada akhir bulan Agustus 2025